Sunday, March 19, 2006
Â
Malas adalah penyakit mental. Siapa dihinggapi rasa malas,
sukses pasti jauh dari gapaian. Rasa malas diartikan sebagai
keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau
sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah
menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka
menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban,dll. Jika keluarga
besar dari rasa malas ini mudah sekali muncul dalam aktivitas sehari-
hari kita, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Bahkan bisa
jadi kita tidak pernah bisa mencapai sesuatu yang lebih baik
sebagaimana yang kita inginkan.
Rasa malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental.
Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini
jelas-jelas sangat merugikan. Sukses dalam karir, bisnis, dan
kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Rasa
malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk
melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Nah,
bagaimana cara mengatasinya ? Berikut kiat-kiatnya :
1. MEMBUAT TUJUAN
Orang yang malas biasanya TIDAK MEMILIKI MOTIVASI untuk
berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang
tidak memiliki motivasi biasanya TIDAK MEMILIKI TUJUAN HIDUP yang
pantas dan layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-
tujuan hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah
menuliskan resolusi atau komitmen pencapaian hidup.
Tanpa tujuan, resolusi, atau komitmen-komitmen pencapaian
hidup, maka seseorang hanya bergerak secara naluriah dan sangat
rentan diombang-ambingkan situasi di sekelilingnya. Posisi seperti
ini membuatnya menjadi pasif, menunggu, TERGANTUNG PADA SITUASI, dan
cenderung menyerah pada nasib. Tidak adanya sumber-sumber motivasi
hidup menyebabkan kemalasan. Supaya motivasi muncul, seseorang harus
berani memutuskan tujuan hidupnya.
2. MENGASAH KEMAMPUAN
Orang yang memiliki tujuan-tujuan hidup yang pasti, membuat
resolusi dan komitmen-komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi
tinggi. Akan lebih baik lagi jika tujuan dilengkapi dengan AKTIVITAS
PEMBELAJARAN, seperti mencari cara yang efisien dan efektif untuk
mencapai tujuan tersebut. Kita juga perlu mengasah kemampuan secara
berkala supaya langkah yang diambil itu akan membawa kita pada
pencapaian tujuan
Contoh : jika pada tahun yang sudah ditargetkan kita ingin
menjadi konsultan, maka sejak sekarang aktivitas kita sudah harus
difokuskan ke arah tujuan tersebut. Kita harus terus mengasah
kemampuan mendiagnosa masalah, menemukan penyebab, menganalisis,
mengkomunikasikan gagasan, menawarkan solusi, dan memperbaiki
kemampuan presentasi.
Jika aktivitas-aktivitas pembelajaran itu dilakukan secara
konsisten dan dengan komitmen sepenuhnya, maka kita telah berada di
JALUR YANG BENAR. Kemampuan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan
masalah juga akan meningkat. Dengan sendirinya ini akan semakin
memperkuat rasa percaya diri kita, menebalkan komitmen pencapaian
tujuan, dan tentu saja menumbuhkan semangat.
Sebaliknya, jika kita sama sekali menolak aktivitas-
aktivitas pembelajaran, komitmen akan semakin melemah, semangat
turun, dan kemalasan akan datang dengan cepat. Pada titik ini,
tujuan-tujuan, resolusi atau komitmen yang sudah kita buat sudah
tidak memiliki arti lagi. Sayang sekali.
3. PERGAULAN DINAMIS
Para pemenang berkumpul dengan sesama pemenang, sementara
para pecundang cenderung berkumpul dengan sesama pecundang. Ungkapan
tersebut mengandung kebenaran. Sulit sekali bagi seorang pemalas
untuk hidup di lingkungan para pemenang. Sulit bagi orang malas
untuk berada secara nyaman di tengah-tengah orang yang sangat
optimis, sibuk, giat bekerja, dan bersemangat mengejar prestasi.
Demikian sebaliknya. Sulit sekali bagi para high achiever untuk
betah berlama-lama dengan para orang malas dan pesimistik.
Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada
pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat
dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan,
putus asa, rasa enggan, apalagi negative thinking. Sepintas,
berkeluh kesah dengan mereka dengan orang-orang seperti itu dapat
melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis.
Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati
orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama
lain.
Jika rasa malas mulai menyerbu kita, jangan berlama-lama
duduk berdiam diri. Cara paling ampuh menghilangkan kemalasan adalah
bangkit berdiri dan menghampiri orang-orang yang sedang tekun dan
bersemangat melakukan sesuatu. Manusia-manusia optimis, self-
motivated, punya ambisi, positive thinking, dan memiliki tujuan
hidup pasti, umumnya MEMANCARKAN AURA POSITIF kepada apa pun dan
siapa pun di sekelilingnya. Pancaran optimisme dan semangat itulah
yang bisa menginspirasi orang lain, bahkan menularkan semangat yang
sama sehingga orang lain jadi ikut tergerak.
4. DISIPLIN DIRI
Jika kita mau bersikap keras dan disiplin pada diri sendiri,
maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik. Bayangkan,
bagaimana seorang atlet bisa menjadi juara jika dia tidak disiplin
berlatih dengan tekun ? Bagaimana mungkin ada pekerja profesional
yang bagus karirnya jika dia sering mangkir atau bolos kerja ?
Sebaliknya, jika kita terlalu lunak atau memanjakan diri
sendiri, memelihara kemalasan, mentolerir kinerja buruk, tidak
merasa bersalah jika lalai atau gagal dalam tugas, maka dunia luar
akan sangat tidak bersahabat. Olahragawan yang manja pasti tidak
akan pernah jadi juara. Seorang sales yang malas tidak akan pernah
besar penjualannya. Jika kita lunak pada diri sendiri, maka dunia
akan keras pada kita.
Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah
menumbuhkan KEBIASAAN MENDISIPLINKAN DIRI dan menjaga kebiasaan
positif tersebut. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian
yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau
impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda
ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas.
mytulip fell at
 11:28 PM
Â
**fallen angel**