Sunday, March 19, 2006
Â
Sewaktu kita sekolah atau kuliah, murid / mahasiswa dikelas
dapat dibagi dalam 3 kategori : murid pintar, murid rata-rata dan
murid bodoh. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya masuk ke
kategori pertama yaitu murid yang pintar dan menghindari yang
terakhir atau murid bodoh. Orang tua seringkali mendaftarkan anaknya
untuk kursus ini, kursus itu agar nilai anaknya menjadi bagus.
Orang tua sering kali memfokuskan pada kelemahan anaknya dan
berusaha menutup kelemahan anaknya itu. Jika anda mempunyai anak
yang menyukai menggambar tetapi nilai matematikanya tidak bagus.
Keuangan anda hanya cukup untuk membiayai 1 jenis kursus, kursus apa
yang akan anda berikan ke anak anda ? Hampir semua akan menjawab :
kursus matematika.
Murid yang pintar biasanya adalah tipe yang ngotot dalam
belajar, mereka takut kalau tidak bisa mengerjakan ujian, stress
jika mendapat nilai buruk. Tipe murid inilah yang biasanya ikut les
ini dan itu, karena mau SEMUA pelajarannya mendapat nilai baik.
Murid yang bodoh biasanya adalah tipe orang yang masa bodoh,
mereka tidak terlalu memikirkan akan dapat nilai berapa. Murid tipe
ini biasanya mempunyai SESUATU yang sangat mereka sukai dan mereka
lebih suka melakukan hal itu daripada belajar. Sedangkan murid rata-
rata berada di antara 2 kategori itu. Di kemudian hari, siapakah
yang akan lebih sukses atau kaya dalam kehidupannya ? Sukses di sini
harus dibedakan dengan kaya. Menjadi kaya berarti mempunyai lebih
banyak uang, sedangkan sukses berarti mengerjakan hal yang mereka
sukai dan menyukai yang mereka kerjakan, serta orang-orang
menghargai apa yang mereka kerjakan.
Dalam banyak kasus, banyak murid yang bodoh semasa sekolah
dan kuliah menjadi orang yang sukses, dan banyak pula yang menjadi
sukses dan kaya. Sedangkan murid yang dulu pintar banyak juga yang
menjadi kaya tapi sedikit yang sukses. Mengapa demikian ? Karena
dari kecil murid yg bodoh sudah terbiasa FOKUS kepada KEKUATAN yg
dia miliki, dan tidak terlalu perduli dengan kelemahannya. Sedangkan
murid yang pintar biasanya TIDAK FOKUS pada sesuatu, terlebih lagi
mereka terbiasa mendahulukan perbaikan pada kelemahan.
Saya mempunyai rekan yg merupakan contoh nyata dari tipe
murid yang bodoh ini. Sebut saja namanya A dan B, keduanya pernah
tinggal kelas dan termasuk murid yang tidak perduli dengan nilai
bagus. Sekarang si A menjadi fotografer professional dgn client dari
perusahaan-perusahaan terkenal di Indonesia dan si B menjadi montir
professional yg disegani di dunia rally mobil. Ambil contoh lain,
Deddy Corbuzier semasa sekolah juga tidak termasuk murid yang
cemerlang, tetapi sejak kecil telah menunjukkan kecintaan yg
mendalam dengan dunia sulap. Sekarang, siapa yang tidak mengenal
Deddy Corbuzier. Contoh lain lagi adalah Rhenald Khasali, beliaupun
pernah tinggal kelas sewaktu sekolah tetapi sekarang merupakan salah
satu pembicara handal.
Di lain pihak, yang dulunya murid yang pintar seringkali
berakhir dengan bekerja di kantoran, mungkin mereka menghasilkan
banyak uang tetapi belum tentu mereka sukses, karena mereka mungkin
tidak terlalu menyukai apa yang mereka kerjakan. Hal ini karena dari
kecil mereka diarahkan untuk memperbaiki kelemahan dan tidak
memperkuat apa sebetulnya kekuatan mereka.
Jika anak anda termasuk dalam kategori anak pintar, jangan
terlalu cepat senang dahulu. Tetaplah gali apa yg ia sukai, apa yg
dengan senang ia lakukan, berilah support agar ia juga melakukan hal
yg ia senangi dan tidak hanya belajar terus menerus. Sedangkan jika
anak anda termasuk anak yg bodoh dan lebih menyukai kesenangannya
daripada belajar, carilah suatu alasan mengapa belajar itu juga
penting untuk mendukung kesenangannya. Misalnya ia suka sekali
dengan dunia otomotif, beri pengertian bahwa seorang ahli otomotif
harus mengerti bahasa Inggris supaya dapat sukses di luar negeri,
atau harus mengerti matematika agar nantinya mengerti mesin dengan
baik, dsb.
Jika sekarang anda bekerja sebagai seorang karyawan, andapun
tentu dibiasakan oleh perusahaan untuk ditambal kelemahannya. Setiap
akhir tahun setelah diadakan penilaian prestasi, pasti ada kelemahan
si karyawan yang diperhatikan oleh atasan dan kemudian
dibuatkan 'Plan for Development' dengan mengikutkan karyawan
tersebut pada suatu training yang dapat membantu memperbaiki
kelemahannya itu, sedangkan untuk kelebihannya hanya diminta untuk
dipertahankan. Mereka yang hanya memfokuskan diri pada memperbaiki
kelemahan biasanya lebih sulit menemukan impiannya dibandingkan
mereka yang terbiasa fokus pada kekuatannya.
Jadi jangan terpaku pada kelemahan anda, fokuskan perhatian
anda lebih kepada kekuatan anda !
mytulip fell at
 11:33 PM
Â
**fallen angel**